Penggunaan natrium metabisulfit dalam produksi gula kelapa sebagai pengawet nira kini semakin banyak dilakukan penderes karena alasan menghemat tenaga dan tahan lama. Banyak pelaku usaha tidak menyadari bahaya yang bisa ditimbulkan baik yang diterima langsung oleh pelaku usaha maupun yang dirasakan akibatnya oleh konsumen.

Guna menumbuhkan kesadaran dan meningkatkan pemahaman pelaku usaha (penderes) dalam memproduksi gula kelapa, Dinas Pangan dan Perkebunan melaksanakan kegiatan Pembinaan dan Sosialisasi Mutu Keamanan Pangan  pada Home Industri Gula Kelapa. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 23,24, 30 dan 31 Juli serta tanggal 5,6,7,8 Agustus di tujuh desa yang terletak di empat kecamatan, yaitu Desa Kaliwungu dan Sidanegara Kecamatan Kedungreja, Desa  Margasari ( dua kali) Kecamatan Sidareja, Desa Karanggintung dan Desa Karanganyar Kecamatan Gandrungmangu, Desa Rejasari dan Desa Kamulyan Kecamatan Bantarsari.

Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan Agus Priharso S.Hut, M.P mengatakan kegiatan ini dilaksanakan untuk menggugah kesadaran  para pelaku usaha agar memperhatikan mutu dan keamanan pangan gula yang diproduksinya.

“Salah satu hak konsumen yang dijamin dalam UU Perlindungan Konsumen adalah produk yang terjamin mutu dan keamanan pangannya. Dalam UU tersebut juga dijelaskan tentang larangan bagi pelaku usaha yang memproduksi tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan,” tandasnya.

Untuk menunjang kegiatan tersebut, dihadirkan narasumber dari Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian serta praktisi gula kelapa sehat. Disamping itu Dinas Pangan dan Perkebunan juga melakukan kerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk penjaminan ketenagakerjaan para penderes gula kelapa. Dengan masuknya penderes sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, apabila terjadi kecelakaan kerja yang kadang dialami penderes bisa mendapatkan jaminan. (Soetji)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here