Banyak produk pertanian hortikultura dijumpai mengandung residu pestisida, hal ini tidak terlepas dari kebiasaan petani hortikultura menggunakan pestisida kimia pada sistem budidayanya. Bahkan petani mengatakan kalau tidak disemprot ya tidak panen. Untuk itu Dinas Pangan dan Perkebunan (Dispabun) memiliki tugas untuk memberikan pengertian kepada petani agar lebih bijaksana lagi dalam penggunaan pestisida kimia supaya produk pertanian yang dihasilkan benar-benar aman untuk dikonsumsi.

Kepala Dispabun, Ir Susilan mengatakan hal tersebut dalam pengarahan dihadapan petani yang tergabung dalam kelompok tani, petugas pengamat hama dan para penyuluh pertanian di wilayah Kecamatan Karangpucung, Senin 24 Juni 2019.

Menurutnya kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang kedua kalinya  dilaksanakan oleh Kabupaten Cilacap dengan dana APBD Kabupaten Cilacap Tahun 2019 melalui Kegiatan Pembinaan dan Pengawasan Batas Maksimum Residu pada Produk Pangan Segar. Pada tahun ini kegiatan tersebut dilaksanakan juga di Kecamatan Gandrungmangu dan Kecamatan Nusawungu.

Pemerintah  telah mengeluarkan UU No. 18 Tahun 2012 tentang pangan yang mengamanatkan bahwa keamanan pangan harus dapat diwujudkan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. DIsamping itu juga terdapat landasan UU No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen yang menyatakan bahwa setiap konsumen berhak atas jaminan informasi dan mutu atas produk yang dibeli.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi tentang cara budidaya hortikultura yang baik yang disampaikan Ety Waryati dari Dinas Pertanian, bahaya pestisida bagi kesehatan manusia yang disampaikan koordinator PPL kecamatan serta materi cara membuat dan aplikasi pettisida organic yang disampaikan praktisi organik Mudzakir, SP.

Menurut Susilan, petani dalam mengaplikasikan pestisida di lapangan banyak yang tidak memenuhi kaidah sehingga bisa membahayakan dirinya sendiri dan lingkungan. Hasil uji cepat pestisida yang belum lama ini dilakukan oleh Dispabun terhadap tujuh jenis komoditas, enam diantaranya positif. Diantaranya yaitu jeruk, daun bawang, kacang panjang dan Lombok.

“Pengalaman membuktikan bahwa hampir pada setiap tahunnya terjadi permasalahan di masyarakat akibat penggunaan pestisida pada proses budidaya tanaman. Kadang hal ini tidak disadari oleh petani yang menghirup uap pestisida yang disemprotkan apalagi jika tidak menggunakan masker saat penyemprotan. Bahkan terdapat kecenderungan, sebelum tanaman dipanen khususnya pada sayuran sering dilakukan penyemprotan pestisida terlebih dahulu. Hal ini tentunya dapat merugikan dan membahayakan konsumen,,” tuturnya.

Pada beberapa jenis budidaya tanaman hortikultura, seperti budidaya cabai atau lombok yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi dan diusahakan secara terus menerus banyak petani yang menerapkan aplikasi pestisida secara berlebihan. Sehingga tanaman menjadi semakin rentan terhadap serangan hama sedang hama menjadi semakin kebal terhadap beberapa jenis pestisida. Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa pembudidaya justru semakin meningkatkan dosis atau mencampur beberapa jenis pestisida yang dampaknya jelas memperburuk lingkungan.

Pemerintah telah mengeluarkan beberapa aturan terkait batas maksimum residu pestisida pada produk pertanian, diantaranya Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehtan RI dan Menteri Pertanian RI Nomor 881/Menkes/SKB/VIII/1996 – 711/KPTS/TP.270/8/1996. Pemerintah juga sudah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian yang terbaru, yaitu Nomor 53 Tahun 2018 tentang Mutu dan Keamanan Pangan Segar.

Melalui pertemuan ini , pemerintah Kabupaten Cilacap berupaya memberikan sosialisasi dan pembinaan kepada petani untuk bersikap bijak dalam penggunaan pestisida pada budidaya pertanian yang dilakukan sehingga diharapkan produk pertanian yang dihasilkan dan beredar di pasaran aman dikonsumsi. Pemerintah juga mendorong kepada kelompok tani agar bisa mendapatkan sertifikat prima 3 (sertifikat yang dikeluarkan sebagai jaminan bahwa produknya telah aman konsumsi). Dengan adanya sertifikat ini menandakan bahwa produk yang dihasilkan sudah benar-benar aman.(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here